Matahari menggantung tinggi di langit, cahayanya memantul pada dinding-dinding tebing yang menjulang tajam di sekitar jurang. Udara terasa panas dan kering, tapi di dasar jurang yang dalam, belasan orang kultivator bersembunyi di balik batu-batu besar yang menaungi mereka dari sorotan langsung cahaya. Tiga di antaranya memancarkan aura agung ranah immortal tahap awal, sementara sisanya berada di ranah grandmaster.

Tiga sosok memancarkan aura kuat dari ranah immortal tahap awal. Mereka adalah Bai Wujian, pemimpin kelompok yang berdiri dengan tenang dan sorot mata tajam yang terus mengamati sekitar. Di sebelahnya, Mo Hanyi berdiri tanpa suara, wajahnya dingin dan bayangannya nyaris tak terlihat di bawah terik mentari. Di sisi lain, Feng Qiren, bertubuh besar dan berotot, berdiri dengan dada membusung dan wajah garang penuh percaya diri.

Delapan orang lainnya berdiri di sekeliling mereka, masing-masing mengenakan jubah hitam kelam. Salah satu dari mereka adalah Luo Zhen, orang yang pernah menculik istri walikota Huoling dan melarikan diri setelah di kalahkan oleh Lynx.

"Luo Zhen, apa kamu yakin mereka ada di sini? Aku tidak melihat siapa pun di tempat seperti ini," gumam Bai Wujian, menyipitkan mata ke arah seberang tebing yang tampak sunyi dan kosong.

"Informasi dari mata-mata kita tidak mungkin keliru," jawab Luo Zhen terbata. Dia bersama anak buahnya mendapatkan tugas untuk menyelidiki keluarga Baihuan yang telah bersembunyi selama ratusan tahun terpisah dengan keluarga lainnya.

Klan Yinfeng, asal Yin Yue, wanita yang mencuri fragmen senjata iblis di Huoling, dulunya adalah klan taklukkan yang tunduk pada keluarga Baihuan. Itu sebabnya sekte kegelapan begitu yakin fragmen itu ada hubungannya dengan keluarga tersebut. Maka penyelidikan dilakukan tanpa ragu.

Mo Hanyi menjawab dengan nada datar sambil menyapu telapak tangannya ke permukaan tanah, seolah mencoba membaca jejak energi. "Jika mereka memang ada disekitar sini, seharusnya jalan masuk ke tempat mereka ada di sekitar sini. Fokus, jangan ada detail sekecil apa pun yang terlewat."

Feng Qiren menoleh, wajahnya diselimuti ketegangan. "Kita harus berhati-hati. Mereka bukan sekadar klan tua. Mereka adalah keluarga tersembunyi yang menarik diri dari dunia selama ratusan tahun. Tak ada yang tahu sampai di mana kekuatan mereka berkembang."

Namun Bai Wujian tersenyum tipis, seolah menganggap kekhawatiran itu berlebihan. "Sebagai tetua Sekte Kegelapan, apa yang perlu ditakuti? Kita sudah berada di ranah immortal. Ditambah pil iblis yang kita bawa, kekuatan kita bisa meningkat kapan saja. Tidak ada alasan untuk takut pada sekelompok orang yang bersembunyi dari dunia."

Baru saja kata-katanya selesai, Mo Hanyi tiba-tiba menyentak pelan.

"Tunggu. Sembunyi cepat!"

Semua langsung merunduk di balik batu besar, menyatu dengan bayangan yang terbentuk dari pancaran matahari siang.

Dari kejauhan, tiga orang tampak berjalan dengan santai di sepanjang sisi tebing. Langkah mereka ringan, seolah tak menginjakkan kaki di tanah. Ketiganya mengenakan jubah kelabu muda, dan wajah mereka tersembunyi di balik tudung. Saat mereka mencapai celah sempit di kaki tebing, tanpa suara, tubuh mereka satu per satu menghilang, lenyap begitu saja di bawah terik matahari.

Bai Wujian, Mo Hanyi, dan Feng Qiren segera melompat turun dan memeriksa lokasi tersebut. Mereka berdiri di depan celah itu, yang tampak seperti dinding batu biasa.

"Tak ada jalan di sini... Tapi jelas-jelas tadi mereka masuk lewat sini," gumam Feng Qiren sambil menyentuh permukaan batu yang hangat.

"Aku yakin pasti ada formasi yang melindungi tempat ini, kita harus menemukannya," ujar Mo Hanyi dengan alis mengernyit.

Bai Wujian mengepalkan tinjunya. "Lihat saja keluarga Baihuan. Begitu kita berhasil masuk, kita rebut fragmen senjata iblis itu. Tak ada lagi yang bisa menghalangi jalan kita."

"Mereka tadi berjalan seperti ini ke arah ini." Feng Qiren memperagakan cara berjalanketiga orang yang mereka lihat sebelumnya. Dia mengikuti dari sisi langkah hingga arah dan kecepatannya.

"Feng Qiren, tidak ada gunanya kamu melakukan hal itu. Aku akan memakan pasir ini kalau sampai cara itu berhasil," sindir Mo Hanyi.

Namun tidak lama kemudian saat Feng Qiren tiba di tempat ketiga pria tersebut menghilang, sosok Feng Qiren tiba-tiba ikut menghilang dari pandangan rekan-rekannya.

"Apa yang terjadi? Kemana Feng Qiren?" bentak Bai Wujian dengan nada tegang.

"Dia ikut menghilang seperti ketiga orang tadi. Cepat kita menyusulnya. Lakukan hal yang sama!" perintah Mo Hanyi kepada kedelapan anggotanya.

Bai Wujian segera mengikuti methode yang dilakukan Feng Qiren. Saat mendekati dinding batu dengan langkah perlahan. Tiba-tiba, tubuhnya menembus permukaan batu seperti menembus air.Tanpa menunggu aba-aba lebih lanjut, Mo Hanyi ikut melangkah seperti yang di lakukan Wai Wujian. Delapan grandmaster bumi mengikuti dari belakang dengan cepat namun hati-hati. Begitu tubuh mereka sepenuhnya melewati dinding ilusi tersebut, cahaya sekitar berubah.

"Lihat ini..." gumam Mo Hanyi sambil memutar badan, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang sulit disembunyikan. "Kita berhasil, waspadalah!"

Seketika udara berubah sejuk. Suara burung terdengar samar di kejauhan. Mereka berdiri di kaki lembah luas yang dipenuhi bangunan megah yang berdiri berderet-deret. Pilar-pilar tinggi dari batu putih menjulang di setiap sudut, jembatan melengkung menghubungkan gedung-gedung besar yang tampak seperti istana mini. Di tengah lembah itu berdiri menara hitam bersusun tiga, dan aura spiritual dari menara tersebut terasa sampai ke ujung jari.

"Tempat ini..." bisik Bai Wujian, matanya terpaku pada pemandangan luar biasa di hadapannya, "...ternyata mereka bersembunyi di dimensi lain. Itu sebabnya keberadaan mereka tidak banyak yang mengetahui"

Mo Hanyi mencengkram gagang pedangnya. "Ini lebih besar dari yang kita duga. Kita tidak bisa gegabah. Cepat cari tempat persembunyian"

"Tunggu! DI mana Feng Qiren? Kenapa kita tidak melihatnya?" bisik pelan Bai Wujian sambil memandang sekitarnya.

Tiba-tiba suara keras menggema dari arah langit.

"Hahaha... Beraninya kalian masuk ke tempat ini tanpa izin! Apa kalian kira kalian pintar bisa masuk tempat ini begitu saja? Kami sengaja membiarkan kalian masuk ke tempat ini."

Suara itu tajam, mengguncang udara. Langkah mereka terhenti seketika. Di kejauhan, puluhan sosok mulai bermunculan dari atap bangunan dan balik tembok kota. Beberapa sudah menghunus senjata, sementara yang lain mengarahkan jari mereka, mengumpulkan energi.

"Kalian sudah dikepung!" teriak suara yang sama, kini terdengar lebih dekat. "Menyerahlah sekarang juga, atau tubuh kalian akan jadi pupuk untuk tanah ini!"

Bai Wujian mengumpat pelan, menyapu sekeliling dengan tatapan tajam. Mo Hanyi menarik napas dalam-dalam, menyadari mereka sudah masuk dalam jebakan.

"Kita bunuh saja semut-semut seperti ini. Kita paksa mereka memberikan fragment senjata iblis." kata Bai Wujian dengan nada marah.

"Tunggu!" Mo Hanyi menghentikan Bai Wujian. "Lihat itu." katanya sambil menunjuk sebuah arah. Tubuhnya tanpa terasa menggigil saat melihat rekan mereka Feng Qiren sedang dalam keadaan terikat dan terluka.

"Bagaimana mungkin, Feng Qiren belum lama meninggalkan kita, kenapa bisa tertangkap semudah itu. Apalagi dia immortal?" kata Bai Wujian dengan nada tidak percaya.

"Hanya immortal tahap awal berani bertingkah di depanku." kata sebuah suara dengan nada tegas dan terdengar menakutkan. Tanpa sadar Mo Hanyi dan Bai Wujian mundur selangkah saat melihat sosok pria tua mendekat. Firasat mereka mengatakan sosok di depannya bukan kultivator biasa.

Mo Hanyi yang melihat sosok di depan mereka adalah sosok yang berpengaruh bagi para pasukan di tempat itu, segera mengambil keputusan cepat, dia ingin melumpuhkan pria tua tersebut dan memaksanya menyerah. Dengan menangkapnya, bisa digunakan untuk memaksa orang yang mengalahkan Feng Qiren untuk tunduk.

Dengan cepat dia bergerak, aura immortal melindungi tubuhnya. Dia yakin dalam sekejap pria tua tersebut akan berhasil di lumpuhkan. Mo Hanyi sudah merasakan pria tersebut tidak memiliki kekuatan besar. Menurut perkiraan Mo Hanyi, pria tersebut pastilah sosok orang yang berpengaruh karena keluarga, tanpa ranah kekuatan yang cukup.

"Mo Hanyi... Jangan!" teriak Bai Wujian yang memiliki firasat tidak enak.

Namun Mo Hanyi mengabaikan dan dalam sekejap berada di belakang sosok pria tua tersebut. "Tertangkap kamu." Batin Mo Hanyi senang karena rencananya berhasil.

DUAG!

Semua anggota sekte kegelapan terdiam. Bukan pria tua tersebut yang berhasil ditangkap namun Mo Hanyi terlempar jauh dan terluka parah dalam sekali serang.

"Hidup Leluhur Monrest... Hidup Leluhur Monrest..."

Suara pasukan yang gembira melihat sosok pria tua yang menjadi pimpinan mereka, sosok yang berhasil di bangkitkan kembali oleh keluarga Baihuan.

